Syabila Dalam Kabut Cinta





Memaknai kesunyian juga kerinduan bagi sebagian orang akan terasa menyakitkan. Namun tidak demikian dengan apa yang dilakukan oleh Sin Syabilla,  sebagai seorang yang pernah nyantri pondok pesantren, ia menggubah rasa rindunya serta kesepiannya menjadi   puisi puisi tentang kerinduan bernuansa ilahiah. 





Dalam suasana keterkungkungan di lingkungan asrama pondok pesantren yang padat kegiatan, mungkin itu malah membuat Bela, panggilan akrabnya, semakin menemukan tempat untuk berkontemplasi dan mengendapkan rasa yang pada akhirnya melahirkan sajak sajaknya.





Buku kumpulan puisi yang berisikan 92 puisi ini dibuka dengan sajak yang berjudul kopi hitam dan sepucuk rindu dengan cukup apik, kopi menjadi begitu hidup seperti larik berikut; 





Kopi hitamku masih berkata kata/ ia menari dalam nyanyian merdu……. Kopi hitamku, kau bawa sepucuk rindu dalam kehangatanmu.





Bagi Bela rindu adalah kekasih itu sendiri yang mempunyai keharuman dan aroma sebagaimana yang ia tuliskan dalam sajaknya yang berjudul Aroma Rindu yang penulis kutipkan dengan utuh;





Ada bekas aroma rindu yang bercumbu,





Di antara kuncup kuncup dalam genggaman.





Lalu ia bercerita tentang setia, juga keyakinan





Inginku bersua di balik rintih kegelisahan, tentang kegilaan yang





Semakin menggila.





Kegilaan yang semakin berisik!





Ada Imaji liar yang Terkendali





Imaji liar dan rasa rindu begitu luar biasa namun tetap tak membuat ia terlarut begitu dalam karena ia masih mempertanyakan tentang kesetiaan, karena itulah rindu masih dikuasainya. Inilah kerinduan pada sang maha kekasih yang diolahnya sebegitu rupa menjelma dalam keindahan juga keraguan.





Sin Syabila,  alumni Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran Lamongan,  mampu menundukkan desahan rindunya yang kalau boleh dikatakan adalah kerinduan yang disebabkan kesepian dan keinginan untuk berjumpa sangMahaKekasih yang begitu nyata namun terasa jauh entah di sudut hatinya yang mana.  





Dalam puisinya yang berjudul Sudah di Penghujung Bela menandaskan hal itu; ……Pelukan waktu senada nyanyiannya masih kudengar merdu/ seakan menyapa mesra, ia bersua tanpa kata/ sudah di penghujung/ Tanpa kata tak besua





Dalam  kurungan dinding asrama kesepian dan kerinduan memang begitu akrab bagi santri yang sedang menuntut ilmu di dalamnya. Tak jarang rasa tidak kerasan juga menggelayuti hati mereka. 





Keinginan untuk merasakan kehangatan rumah bersama orang tua begitu menyiksa. Lingkungan yang demikianlah yang membentuk jiwa kreatif Bela.





Dunia merangkai  kata kata menjadi pelampiasan yang asyik bagi seorang Bela. Metafor metafor yang ia munculkan berhasil melukiskan suasana setiap puisi yang ditulisnya. 





Ditulisnya dalam sajaknya yang berjudul,  Kabut Rindu





Kabut menelanjangi rindu dalam dekapan/ Di pekat hitam pada bola matanya yang menari di jejak waktu/ Menggiring do’a do’a di peraduannya





………….Pada sajak yang membiru/ Kedua bola matamu bergerilya di lautan nikmatNya.     





Meski kerinduan yang ia rasakan begitu menyiksa akan tetapi Bela masih menyandarkan harapan kepastian yang kokoh di hatinya bahwa suatu saat semua ini akan berakhir. 





Berakhir tanpa ada kesedihan. Seperti dalam sajaknya Berpulang berikut;





……………………





Keranda dengan roda derap kakinya mendadak seperti menjadi nada dering ponselku.





Kemudian kafan, menjadi pakaian idamanku, dan bisikan





Lantunan adzan menjadi pengantar tidur.





Di ruang sempit itu tanah yang basah menjadi istana megah di tidur panjangku.





Berbicara berpulang? Kenapa aku sedih?





Pada akhirnya, bagi Bela, semua akan berpulang kepadanya cepat atau lambat. Nikmati saja kerinduan dengan kontemplasi. Dan  kenapa kepulangan yang pasti mesti ditangisi?





Baginya semua adalah garis dariNya sebagaimana ucapannya dalam Membelah Kabut yang dijadikan judul buku ini;





…..Dari Timur yang berisyarat seperti berkolaborasi dalam kabut./ Perlahan, pelan./ Seolah memutar lagu yang sangat merdu./ Bukankah Tuhan telah menggariskan nyanyiannya di tanganmu?




Cinta sebenarnya hanyalah mimesis dari kasih sayang sang Maha Cinta. Dan dalam setiap larik puisi yang terkandung dalam antologi puisi ini Bela sukses mewujudkan cinta itu menjadi cinta yang terkendali.  Selamatmembaca!  





Judul      : Membelah Kabut





Penulis   : Sin Syabilla





Tebal       : vii+96 hlm





Penerbit : Pustaka Ilalang Jl. Airlangga Sukodadi Lamongan





Cetakan : Pertama Juni 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s